a personal story : Pendidikan dan Internet

Halooo semuanya, apa kabar? Hehehehe udah lama nggak nulis di blog, and now I am back, finally!!!

Beberapa hari yang lalu, aku membuka akun Instagram terus aku nemuin satu postingan yang menurutku nggak sekedar inspiratif tapi juga I can relate to their story. Yap, postingan tentang sopir angkot yang memberikan sambutan karena putranya jadi lulusan terbaik SPN Polda Jawa Barat. Mungkin udah banyak cerita serupa, tapi cerita-cerita kaya gini rasanya nggak akan lekang oleh waktu. Of course, nothing worth comes easy. Tentu saja semua ada campur tangan Allah yang Maha menentukan, tapi bukannya hasil dan keberuntungan itu parallel dengan usaha? Bukannya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum tersebut berusaha? Makanya, aku yakin udah banyak banget hal yang dilewatin oleh si Bapak sopir angkot dan putranya untuk sampai di fase ini.

Postingan viral di akun Instagram @infia_fact

As I mentioned earlier, I can relate a lot to his story… why? Because mine, is similar to his. Ceritaku hampir sama dengan cerita mereka, si Bapak sopir angkot dan anaknya yang menjadi polisi. To be frankly honest, being poor and having no adequate money was NOT A PRIVILEGE. I neither want to glamorize nor sugarcoat the fact that it was bitter and painful somehow. Tetapi, kekurangan dan keterbatasan dari segi finansial, fasilitas dan sumber daya itu yang membuat kami yang berasal dari golongan bawah menjadi lebih resilient, tangguh, nggak gampang nyerah dengan keadaan. Mungkin ini dipicu oleh hal-hal kecil, misalnya dulu di saat teman-teman lain mungkin bisa les ini itu tanpa kekurangan, bisa memiliki berbagai jenis mainan sesuai trend, kadang kami cuma bisa liat aja, atau kadang pinjam, itupun kalo diperbolehkan. Hal ini yang mungkin bikin kami bertekad untuk memperbaiki keadaan kami di masa depan. Tentu saja, itu terdengar sangat sederhana untuk jadi alasan awalnya kenapa kita berjuang. Bagaimana caranya? Sesederhana pikiran anak kecil, yang kami tahu saat itu caranya hanya melalui belajar yang rajin.

Kenyataan lain yang membuat aku sangat bersimpati dengan cerita si polisi dan ayahnya adalah background orang tua kami. Kalau orang tua si polisi tersebut adalah sopir angkot, dulu almarhum bapakku yang merupakan lulusan SD juga hanya berjualan ayam dan mengumpulkan botol dan kardus bekas (scavenger). Kalau pagi-sore, Bapak biasanya ke pasar ayam, sedangkan pukul 03.00 dini hari bapak mulai mencari kardus dan botol bekas dengan sepeda tuanya, berharap tidak sampai mempermalukan aku dan adik yang masih sekolah. Ibuku? Ibuku hanya lulusan SMP, sempat jadi pembantu rumah tangga sejak aku SD hingga SMP, kemudian bekerja di toko grosir sejak aku SMA-kuliah. Aku masih ingat betul, bahkan jika ditotal, penghasilan ayah dan ibuku tidak sampai 1juta rupiah, padahal masih harus menyekolahkan 2 anak. Tapi untungnya, alhamdulillaah, aku dan adek mendapatkan beasiswa dan bantuan dari sekolah hingga lulus.

Meskipun dapat beasiswa, tetapi untuk mengikuti semua pelajaran dan tugas-tugas tentu saja harus ada usaha lebih dariku. Yep, ibaratnya aku harus “pintar cari jalan tikus” untuk mencapai tujuan. Aku ingat betul, saat SMA dan ada tugas membuat makalah atau artikel dan sumbernya dari internet, aku biasanya mengajak temanku yang mempunyai laptop untuk pergi ke plaza Telkom milik Telkom Indonesia yang ada di dekat taman parkir Wonosari karena di sana gratis. Dengan meminjam laptop teman dan internet gratis dari Telkom Indoneisa, aku bisa menghemat beberapa ribu rupiah yang saat itu amat sangat berharga.

keluarga

Long story short, setelah lulus SMA alhamdulillaah aku diterima salah satu perguruan tinggi kedinasan di Jakarta. Boleh dibilang beruntung. Tapi aku yakin, keberuntunganku itu tidak lepas dari dukungan orang tua serta doa-doa mereka. Despite all the obstacles, they managed to brought us the best education they could. Sekarang, aku sudah bekerja dengan penghasilan yang cukup meskipun harus merantau lebih jauh lagi, bukan hanya sekedar Gunungkidul-Jakarta seperti saat kuliah. For every blessing that I’ve gotten, I thought I needed to pay forward (the kindness). Sadar atau tidak, selain orang tua tentu saja ada banyak pihak yang membantuku untuk sampai di titik ini, dan aku percaya bahwa kebaikan tidak boleh hanya berhenti pada diriku. Di sisi lain, aku benar-benar merasakan pesatnya perkembangan teknologi selama lima belas tahun terakhir, internet benar-benar menjadi bagian penting dalam transisi hidupku. Sejak semuanya serba online, ketergantungan terhadap internet semakin besar, termasuk untuk mendaftar sekolah hingga mencari bahan pelajaran ataupun kuliah. Aku percaya bahwa Manfaat Internet sangat banyak, terlebih untuk yang tinggal di daerah jauh dari kota (yep, jarak Gunungkidul ke Kota Jogja kurang lebih 40km, ditempuh dengan waktu kurang lebih 1 jam). Aku masih ingat betul, dulu, untuk mendaftar sekolah kedinasan, untuk update informasi dan pengumuman, aku harus bolak-balik warnet. Dengan koneksi saat itu yang masih 3G, walaupun sudah akrab dengan internet, tetapi koneksinya belum selancar sekarang. Belum lagi saat warnet-warnet penuh dan harus antre. Oleh karena itu, pada tahun 2022 aku mulai berlangganan IndiHomeAku terinspirasi oleh ibu kosku yang menyediakan layanan internet gratis untuk penghuni kos yang mayoritas adalah mahasiswa rantau. Seingatku, saat itu ibu kos juga menggunakan IndiHome sehingga itu menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih provider internet.

Sederhana, aku berlangganan IndiHome di rumah dengan harapan bisa sedikit membantu orang-orang (khususnya para pelajar) yang tinggal di sekitar rumah. Terlebih saat masa pandemi kemarin di mana kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring (school from home). Biasanya mereka akan datang untuk “menumpang Wifi” untuk mengerjakan tugas sekolah dan lain-lain. Aku merasa sangat senang ada sedikit manfaat yang bisa kubagi melalui fasilitas internet IndiHome ini. Selama kurang lebih 3 tahun terakhir ini, alhamdulillaah koneksi di rumah Jogja juga lancar sehingga apa yang menjadi tujuan untuk berlangganan IndiHome dapat terwujud dengan baik. Terima kasih, Indihome, Internetnya Indonesia.



Selain belajar, anak-anak sering bermain game bersama

Terakhir, berdasarkan pengalaman pribadiku, aku yakin bahwa pendidikan adalah pondasi untuk memperbaiki kualitas hidup. Melalui pendidikan yang ditunjang dengan berbagai fasilitas penunjang seperti internet, aku sangat yakin bahwa akan semakin banyak hal yang bisa dieksplore oleh para pelajar. Internet yang menyediakan jutaan informasi hanya dekan sekali klik memungkinkan para pelajar untuk mengetahui keadaan dan fenomena apapun dari berbagai penjuru dunia. Selain itu, dengan adanya internet, mereka juga bisa belajar dan berinteraksi dengan banyak orang dari belahan dunia lain yang akan menambah kualitas soft skill mereka. Aku sangat berharap akan semakin banyak pelajar ataupun anak-anak yang bisa merasakan Manfaat Internet ini, dan aku percaya bahwa IndiHome sebagai Internetnya Indonesia akan membantu mewujudkan harapanku ini.

 

Comments

Popular Posts