10 “Bali Baru”: Tantangan dan Harapan


Sejak beberapa tahun terakhir, sektor pariwisata di Indonesia terus mengalami peningkatan, baik dari sisi jumlah destinasi wisata maupun wisatawan yang berkunjung. Peningkatan sektor pariwisata ini tentu berdampak pada peningkatan di sektor ekonomi. Ditinjau dari sisi pendapatan devisa, pada tahun 2018 pariwisata juga merupakan penyumbang terbesar devisa. Di sisi lain, berdasarkan data BPS, pada tahun 2018 saja, kontribusi pariwisata terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) mencapai 5,25 persen, dan diharapkan mampu meningkat hingga 5,5 persen pada tahun 2024. Hal ini tentu merupakan hal baik. Pertanyaannya, bagaimana cara agar target dapat tercapai? Selain itu, perlu diketahui apakah perkembangan sektor pariwisata di Indonesia sudah merata, atau masih bertumpu pada Bali saja?
Seperti yang kita ketahui, selama ini Pulau Bali adalah primadona pariwisata utama di Indonesia, padahal banyak daerah di Indonesia yang mempunyai potensi pariwisata. Meskipun demikian, daerah wisata selain Bali belum begitu berkembang. Oleh karena itu, sejak 2016 pemerintah telah mencanangkan 10 “Bali Baru” yang tersebar di 10 provinsi di Indonesia. 10 “Bali Baru” tersebut adalah Danau Toba (Sumatera Utara), Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur), Borobudur (Jawa Tengah), Tanjung Kelayang (Bangka Belitung), Pulau Morotai (Maluku Utara), Mandalika (Nusa Tenggara Barat), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Tanjung Lesung (Banten), Bromo-Tengger-Semeru (Jawa Timur), dan Wakatobi (Sulawesi Tenggara). Adanya 10 “Bali Baru” ini diharapkan mampu mengoptimalkan potensi pariwisata masing-masing daerah yang nantinya akan meningkatkan perekonomian masyarakat.
Dibandingkan dengan Bali, wisata 10 “Bali Baru” memang masih tertinggal, baik dari segi popularitas maupun kunjungan wisatawan. Bukanlah hal yang mudah untuk membangun citra bagi destinasi pariwisata baru, apalagi 10 “Bali Baru” memiliki keunikan dan tantangannya masing-masing. Misalnya, tantangan untuk wisata Danau Toba adalah keterlibatan masyarakat dari 8 kabupaten yang berada di sekitar Danau Toba yang masih rendah. Keterlibatan masyarakat dalam mengelola industri pariwasata diperlukan agar masyarakat sekitar merasa memiliki dan mau menjaga keberlangsungan wisata tersebut sehingga dapat membantu perekonomian. Selain itu tantangannya adalah menambah dan meningkatkan fasilitas penunjang pariwisata yang identik dengan wisata petualangan alam. Di sisi lain, untuk wisata Tanjung Lesung di Banten yang pada Desember 2018 terkena damapk tsunami juga harus dibenahi fasilitasnya, seperti hotel dan lain-lain yang menunjang kenyamanan dan perasaan aman wisatawan. Contoh lainnya adalah tantangan transportasi di wisata Kepulauan Seribu, meskipun masih termasuk wilayah DKI Jakarta, tetapi akses menuju Kepulauan Seribu masih tetap harus diperbaiki dan ditingkatkan, pasalnya selama ini jadwal kapal kecil yang mengangkut wisatawan ke pulau-pulau tertentu masih jarang, bahkan terkadang hanya seminggu dua kali.
Seperti yang telah diketahui, salah satu upaya untuk menarik para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, maka yang perlu diperhatikan pertama kali adalah masalah fasilitas. Selain itu, menurut Presiden Joko Widodo, masalah utilitas dan amenitas juga tak kalah penting. Fasilitas yang memadai seperti ketersediaan infrastruktur seperti jalan yang baik, transportasi yang saling terkoneksi dan terintegrasi serta ketersediaan fasilitas umum dengan pelayanan prima adalah salah satu syarat berkembangnya suatu destinasi wisata. Di sisi lain, utilitas yang dimaksud dalam hal ini adalah destinasi wisata yang dikembangkan harus dapat dinikmati para wisatawan sedangkan amenitas yang dimaksud adalah kenyamanan para wisatawan harus diperhatikan, yaitu dengan adanya fasilitas-fasilitas penunjang seperti hotel dan penginapan, bank, tempat berbelanja, dan sebagainya. Untuk destinasi wisata yang memang belum semaju Bali, tiga hal tersebut harus mendapatkan perhatian khusus. Hal ini sejalan dengan dua pendekatan dalam mengembangkan industri pariwisata, yaitu product oriented dan market oriented. Product oriented berarti pemerintah dan stakeholder harus berorientasi pada produk yang dijual, dalam hal ini adalah wisata. Dalam hal ini, keunggulan dari masing-masing destinasi wisata harus ditonjolkan, misalnya wisata alam, wisata budaya, wisata kuliner ataupun wisata belanja. Market oriented maksudnya dalam mengembangkan industri pariwisata pemerintah dan stakeholder harus berorientasi pada keinginan dan kemauan wisatawan, seperti adanya cafe and bar, dan lain-lain. Meskipun demikian, dalam mengikuti perkembangan pasar dan kemauan wisatawan harus senantiasa memperhatikan norma dan adat yang berlaku sehingga ciri khas daerah tersebut tetap lestari.
Dalam melaksanakan optimalisasi 10 “Bali Baru” ini, pemerintah dirasa perlu untuk menggandeng pihak-pihak terkait, termasuk investor. Menurut Kementerian Pariwisata, kebutuhan dana untuk 10 destinasi wisata prioritas dan kawasan strategis pariwisata nasional (2015-2024) untuk investasi pariwisata mencapai Rp.205 triliun, dengan komposisi Rp.170 triliun dari pemerintah untuk pembangunan dan perbaikan infrasturktur sedangkan Rp. 35 triliun diharapkan dari swasta. Belajar dari Korea Selatan yang berhasil meningkatkan pariwisata melalui sektor Hallyu atau Korean Wave, diperlukan tiga jenis investor dalam industri pariwisata, yaitu investor strategis yaitu investor yang berinvestasi langsung pada industri pariwisata seperti mengembangkan bisnis pariwisata, investor konstruksi yang diharapkan akan berinvestasi dalam hal konstruksi seperti pembangunan infrastruktur, serta investor finansial seperti bank dan penyedia asuransi. Meskipun demikian, perlu diperhatikan bahwa peningkatan sektor pariwisata ini harus tetap memperhatikan lingkungan atau green tourism. Investor yang “digandeng” pemerintah hendaknya yang mau berkomitmen terhadap green tourism. Misalnya saja untuk investor yang akan mengembangkan usaha perhotelan ataupun restoran, diharapkan investor mau dan mampu membuat terobosan untuk mengurangi sampah plastik, terlebih untuk daerah wisata yang berada di sekitar pantai. Lalu, bagaimana cara menarik investor agar mau bekerja sama mengembangkan 10 “Bali Baru” ini?
Cara yang pertama dan utama tentu saja adalah promosi 10 “Bali Baru” melalui berbagai media massa, seperti TV, intenet, surat kabar, atau bahkan bekerja sama dengan para influencer muda untuk turut membantu promosi. Saat ini, media yang paling digemari adalah media sosial seperti Instagram sehingga promosi melalui media ini diharapkan lebih digencarkan. Cara yang kedua adalah melibatkan masyarakat dalam menjaga, memperbaiki dan mengembangkan wisata 10 “Bali Baru” ini karena masyarakatlah yang akan merasakan dampaknya. Apabila industri pariwisata dapat berkembang, maka wisata tersebut dapat menyerap banyak tenaga kerja sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. Salah satu yang harus disosialisasikan kepada masyarakat sekitar daerah wisata adalah penanaman mindset bahwa dalam pengembangan wisata ini harus bebas dari pungutan liar di luar retribusi bagi wisatawan, menerapkan harga baik barang ataupun jasa yang wajar serta memastikan tidak ada preman-preman yang mengganggu kenyamanan wisatawan. Bagi masyarakat sekitar destinasi pariwisata 10 “Bali Baru”, khususnya bagi ibu rumah tangga, sebaiknya juga diselenggarakan semacam penyuluhan dan pelatihan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Penyuluhan ataupun pelatihan dapat berupai pelatihan membuat cindera mata, pelatihan memasak untuk membuka usaha penyedia makan minum, pelatihan untuk pegawai salon, spa dan lain-lain. Tak lupa pula juga melatih para generasi untuk tetap melestarikan budaya masing-masing daerah, misalnya melalui pelatihan tari-tarian yang nantinya akan dapat menambah daya tarik wisata. Apabila partisipasi masyarakat aktif, maka pengembangan 10 “Bali Baru” ini akan lebih mudah.
Saat ini memang masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan. Banyak tantangan sulit dalam pengembangan 10 “Bali Baru” dengan karakteristiknya masing-masing. Namun, sulit bukan berarti tidak bisa. Saat ini, marilah kita saling bahu membahu untuk mengembangkan 10 “Bali Baru” agar menjadi wisata berkelas dunia, dan tentu yang paling utama agar membawa kebermanfaatan bagi masyarakat. 10 “Bali Baru” memanglah sebuah tantangan, tetapi ia juga menyimpan sejuta harapan penuh kebaikan.

Comments

Popular Posts