Mencatat 74 Tahun Perjalanan Indonesia
Tondano, 18 Agustus 2019
Tahun ini, sudah genap 74 tahun
Indonesia merdeka. Sudah 74 tahun pula bangsa ini tak lagi dijajah oleh bangsa
lain. Tak ada lagi romusha, tak ada
lagi NICA, dan tak ada lagi gerilya. Meskipun demikian, bukan berarti bangsa
ini sudah mencapai garis akhir. Kemerdekaan memang sudah diikrarkan, tapi belum
semua rakyat Indonesia sudah benar-benar merdeka. Masih ada yang belum merdeka
dari keterbatasan akses ke fasilitas pendidikan dan kesehatan, masih ada yang
belum merdeka dari rasa takut akan kelaparan, masih ada yang belum merdeka dari
rasa takut akan masa depan yang penuh tantangan. Masih banyak penduduk yang bahkan kebutuhan
dasarnya saja jauh dari kata layak. Rumah layak, sanitasi layak, air minum
layak, pendidikan layak, fasilitas kesahatan yang memadai adalah bentuk
kemerdekaan yang hingga saat ini masih perlu diupayakan, diperbaiki, dan ditingkatkan.
Tema HUT RI tahun ini adalah “SDM
(Sumber Daya Manusia) Unggul, Indonesia Maju”. Tema yang menarik. Setelah fokus
pada pembangunan infrastruktur, pemerintah mulai menitikberatkan pembangunan
manusia yang merupakan subjek sekaligus objek pembangunan itu sendiri. Bukan
berarti pembangunan infrastruktur sudah rampung, tapi semua harus mulai
direncanakan. Semakin majunya perkembangan teknologi, semakin ketat pula
persaingan yang ada. Bukan tidak mungkin bahwa eksistensi manusia akan tergeser
oleh adanya robot-robot hasil kemajuan zaman. Cepat atau lambat, hal ini
menjadi tantangan bagi Indonesia. Oleh karen itu, pembangunan dari sisi sumber
daya manusia memegang peranan penting bagi keberlangsungan dan kemajuan bangsa
ini.
Berdasarkan hasil Sensus Penduduk
2010 yang lalu, jumlah penduduk Indonesia mencapai 237.641.326
jiwa dan diproyeksikan meningkat hingga mencapai 271.066.400 jiwa pada 2020. Jumlah
penduduk yang sangat banyak dapat dianalogikan sebagai dua sisi mata pisau.
Jika jumlah penduduk yang banyak memiliki kualitas yang unggul, maka penduduk
dapat menjadi peluang yang dapat membantu percepatan pembangunan dan kemajuan
bangsa ini. Sebaliknya, jika jumlah penduduk yang banyak tidak dibarengi dengan
upaya-upaya peningkatan kualitasnya, besar kemungkinan besarnya jumlah penduduk
hanya akan menjadi “bencana”. Pada hal ini, kuantitas penduduk diharapkan bisa
selaras dengan kualitasnya.
Oleh karena itu, pembangunan
infrastruktur serta peningkatan kualitas sumber daya manusia harus menjadi fokus
saat ini. Salah satu caranya adalah dengan mulai menyusun rencana serta
kebijakan, baik jangka pendek, menengah maupun panjang. Dalam hal perencanaan,
banyak aspek yang harus diperhatikan. Data, merupakan salah satu sumber acuan
dalam perencanaan pembangunan. Data penduduk adalah data paling fundamental.
Data penduduk yang mencakup sebarannya menurut wilayah, menurut jenis kelamin,
menurut jenjang pendidikan terakhir yang ditamatkan, dan lain-lain menjadi
pertimbangan dalam penentuan kebijakan. Misalnya, di mana harus dibangun
sekolah agar semua dapat mengenyam pendidikan, di mana harus dibangun tempat kursus
bagi ibu rumah tangga agar produktif, di mana harus dibangun pusat kegiatan bagi
lansia agar mandiri, di mana harus dibangun fasilitas kesehatan yang terjangkau
bagi semua dan sebagainya. Di sini dapat dilihat bahwa data yang akurat adalah
syarat pembangunan yang tepat sasaran.
Tahun depan, Indonesia akan memutar
kembali rekaman perjalanan 74 tahun pasca kemerdekaan. Rekaman jejak perjalanan
penduduknya dari masa ke masa. Potret kehidupan dari seluruh penjuru negeri. Dari
Sabang hingga Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote. Semua akan dicatat tanpa
terkecuali, karena semua akan menjadi bagian dan mengambil bagian dalam pembangunan bagi kemajuan
negeri ini. Semua harus berpartisipasi, karena ini bukan hanya hajatan satu
instansi, tapi ini adalah pijakan untuk menata bangsa ini menjadi lebih baik
lagi. Nantikan kami #MencatatIndonesia pada #SensusPenduduk2020.


Mantul
ReplyDelete