The blue bajaj and Transjakarta bus

Without realising, it’s already day7 of #15HariCeritaEnergi yayyy!! What do you think about my latest post? Is it informative enough for you to read? I need your feedback, guys hehe. If you have time, then leave comments on the column provided, I’ll be so grateful to you J

Back to what I’ve posted yesterday, yeah, there are lots of things about the government efforts related to the new and renewable energy. The first case I wanna share is gas fuel, or so called as BBG. Do you know that government was so eager to convert oil fuel to gas fuel since years ago? One of the purpose was for effective adn efficient use of renewable energy in gas form since the gas fuel so much more environment friendly and abundant amount.

For those who live in Jakarta, I am pretty sure that you, at least once, ever saw Transjakarta bus or bajaj. Yeah, those kind of vehicles use gas as the fuel. But have you ever know where it refill the fuel? It refill its fueal at SPBG. One of the SPBG  (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas/ Gas fuel refill station) that I know is located in Klender, East Jakarta. Different from SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum/ Common fuel refill station) which is operated by Pertamina, SPBG is operated by PGN (Perusahaan Gas Negara). One thing that makes it easy to differentiate, the SPBU usually dominated with red color, while SPBG dominated by blue color. A good news came up, that Mr.Ignasius Jonan as the Minister of Energy and Mineral Resource made Permen (Peraturan Menteri) which is Permen ESDM 25/2017 that oblige the SPBU to provide the BBG so that the conversion oil fuel to gas fuel can be accelerated. The reason behind this policy is that, not all the region/city has the SPBG due to the limited gas infrastructure. The cities which already have the infrastructure are Jakarta, West Java, East Java, East Kalimantan, and Palembang.

From https://finance.detik.com/energi/3483416/ada-150-spbu-jual-bbg-ini-daftar-lokasinya, it stated that the success conversion indicates by private users of BBG. Unfortunately, as far as I know, and if I aint mistaken, the users of the BBG in Jakarta are only Transjakarta-bus and bajaj, but  I haven’t know yet in another places. Compared to oil fuel, gas fuel is so much cheaper, which costs only Rp.3,100/liter. This cheap price hopefully can attract people to start converting their transportation fuel. However, again, it’s not easy thing to do. People will tend to ask “Why should we convert our transportation fuel if our vehicle doesn’t support?” That’s why, I personally think that the gonvernment should make an invasion to the transportation industry to produce vehicles which support gas fuel, so that in the end the conversion policy can be evenly applied, also the government need to build and maintain the pipe which is used to distribute the gas well.


On another occasion, I’d like to discuss about electric car as the alternative transportation as well or waste-based energy since it sounds so interesting.  

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
=========================================================================
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tanpa disadari, hari ini sudah hari ketujuh dari #15HariCeritaENergi. Yeeeey! Bagaimana menurut kalian tentang postinganku selama 6 hari terakhir? Aku membutuhkan kritik dan saran yang membangun dari kalian, jadi kalau sempat tolong tinggalkan komentar di kolom yang sudah tersedia di blogku, yaaa hehe.

Kemarin aku membahas tentang rencana dan strategi yang dilakukan pemerintah Indonesia terkait energi baru dan terbarukan. Hari ini, aku akan membagikan informasi seputar bahan bakar gas atau yang biasa disebut BBG. Apakah kalian sudah tahu jika pemerintah sangat berharap pada konversi bahan bakar minyak ke bahan bakar gas sejak beberapa tahun terakhir? Salah satu tujuannya adalah untuk efektivitas dan efisiensi penggunaan energi baru dan terbarukan, karena BBG merupakan termasuk bahan bakar yang ramah lingkungan dan secara kuantitas masih banyak.

Untuk orang-orang yang tinggal di Jakarta, aku yakin, setidaknya pernah (minimal sekali) melihat bus Transjakarta dan bajaj yang bertuliskan BBG pada badan kendaraan. Tapi, tahukah kalian di mana mereka mengisi bahan bakarnya? Sebenarnya ada banyak lokasi pengisian bahan bakar (SPBG) di Jakarta, tetapi yang paling dekat dengan tempat tinggalku adalah SPBG di Klender, Jakarta Timur. Berbeda dengan SPBU yang dikelola Pertamina, SPBG dikelola oleh PGN. Bagi orang awam, perbedaan oaling mencolok diantara keduanya adalah, jika SPBU dinominasi warna merah, maka SPBG didominasi warna biru.

Belakangan ini, terdapat berita baik yang menyatakan bahwa Bapak Ignasius Jonan, selaku Menteri ESDM, mengeluarkan Permen ESDM 25/2017 tentang mewajibkan SPBU menyediakan BBG sehingga konversi energi bisa dipercepat. Selain itu, penetapan ini juga disebabkan karena belum meratanya infrastruktur gas yang ada di Indonesia. Sampai saat ini baru ada beberapa daerah yang memiliki infrastruktur yang baik, yaitu Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Timur dan Palembang.

Berdasarkan https://finance.detik.com/energi/3483416/ada-150-spbu-jual-bbg-ini-daftar-lokasinya diketahui bahwa  konversi BBM ke BBG dikatakan sukses bila penggunanya didominasi oleh pihak swasta. Sayangnya, sejauh yang saya tahu, jika tidak salah, pengguna BBG di Jakarta yang mendominasi adalah bus Transjakarta dan bajaj, tapi aku belum tahu bagaimana keadaan di tempat lain. Padahal, jika dibandingkan dengan harga BBM lainnya, harga BBG jauh lebih murah, yaitu hanya Rp.3.100 per liternya. Harga yang murah ini diharapkan bisa menarik masyarakat untuk beralih menggunakan BBG. Tapi adalah sebuah kewajaran jika masyarakat yang diharapkan beralih dari BBM ke BBG bertanya, bagaimana mungkin beralih bahan bakar jika kendaraan mereka tidak mendukung? Oleh karena itu, menurutku, perlu ada intervensi dari pemerintah ke perusahaan industri trasportasi untuk memproduksi kendaraan dengan BBG sehingga kebijakan pemerintah dapat diterapkan oleh semua pihak, termasuk masyarakat biasa dengan kendaraan pribadi.

Sementara itu dulu yang aku sampaikan, di kesempatan lain aku ingin membahas tentang mobil listrik atau pemanfaatan sampah sebagai pembangkit listrik ataupun sebagai bahan pembuatan jalan. Ini sangat menarik untuk dibahas menurutku. Tetapi, jika kalian ingin tahu lebih banyak, lebih lengkap dan ingin mencari tahunya sendiri, silakan cek di www.esdm.go.id

Comments

Popular Posts